RSUDZA Rilis Buku Ketiga, Kegawatdaruratan dalam Bidang Dermatologi

Ketika kulit kerap dianggap sunyi, padahal dalam kegawatdaruratan ia bisa berteriak paling keras.
Banda Aceh, 9 Februari 2026 – Di tengah denyut pelayanan kesehatan yang tak pernah berhenti, RSUD dr. Zainoel Abidin kembali menegaskan perannya sebagai rumah sakit pendidikan dengan meluncurkan buku berjudul “Kegawatdaruratan dalam Bidang Dermatologi”. Buku ini menjadi penanda bahwa ilmu pengetahuan terus bertumbuh, seiring komitmen rumah sakit dalam merawat bukan hanya pasien, tetapi juga peradaban keilmuan.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Instalasi Perpustakaan RSUD dr. Zainoel Abidin, di bawah koordinasi Khairunnisak, S.Pd.I, selaku Kepala Instalasi. Melalui perannya, perpustakaan tidak lagi sekadar ruang sunyi penuh rak buku, tetapi menjadi ruang yang melahirkan karya-karya ilmiah dari lingkungan rumah sakit.
Acara ini dihadiri oleh jajaran Direksi dan Manajemen RSUD dr. Zainoel Abidin, para penulis, para editor, serta beberapa unit terkait yang turut menjadi saksi lahirnya karya buku ini. Kegiatan dibuka secara resmi oleh dr. Arifatul Khoirida, MPH, Wakil Direktur Pengembangan SDM, yang menyampaikan apresiasi mendalam atas terbitnya buku ketiga RSUD dr. Zainoel Abidin setelah Beyond the Limit dan Menjemput Harapan.
Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa bangga dan harapan besar terhadap keberlanjutan budaya menulis di lingkungan rumah sakit. “Selamat atas terbitnya buku ketiga RSUD dr. Zainoel Abidin, yaitu Kegawatdaruratan dalam Bidang Dermatologi. Apresiasi kami sampaikan kepada para penulis dan editor, khususnya Dr. dr. Budi Yanti, Sp.P(K), FAPSR, yang telah berhasil menyelesaikan buku ini. Harapan kami, setiap tahun RSUD dr. Zainoel Abidin dapat menerbitkan satu buku. Insyaallah, pada tahun 2026 buku Pedoman Syariah juga akan segera diluncurkan,” ujarnya.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Dr. dr. Nanda Earlia, Sp.KK, FINSDV, FAADV(K) selaku penulis utama. Beliau menjelaskan bahwa buku ini disusun untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan sekaligus memberikan pemahaman yang komprehensif dan aplikatif mengenai kondisi kegawatdaruratan kulit yang sering kali hadir tanpa aba-aba, baik di pelayanan primer, sekunder, maupun tersier.
Beliau juga menegaskan bahwa dermatologi tidak selalu berjalan perlahan dan elektif.
“Selama ini, dermatologi kerap dipandang sebagai bidang yang tidak mendesak. Padahal, ada kondisi-kondisi kulit yang bersifat gawat darurat dan menuntut keputusan cepat, tepat, dan terkoordinasi. Keterlambatan penanganan dapat berujung pada komplikasi serius, bahkan mengancam jiwa. Melalui buku ini, kami berharap dokter umum, residen, hingga dokter spesialis kulit memiliki panduan yang jelas saat menghadapi situasi kritis secara optimal,” ungkapnya.
Lebih lanjut, beliau menyampaikan harapan agar buku ini dapat menjadi bagian dari upaya peningkatan mutu layanan kesehatan kulit di Indonesia. Dengan kerendahan hati, disadari bahwa buku ini masih memiliki keterbatasan, sehingga kritik dan masukan konstruktif sangat diharapkan sebagai bekal penyempurnaan pada edisi mendatang.
Pada akhirnya, buku ini tak hanya sekadar kumpulan halaman, melainkan ikhtiar menjaga kehidupan, agar disaat kulit bersuara paling keras, ilmu telah siap mendengar dan bertindak.
Kalau kamu percaya bahwa pengetahuan yang baik seharusnya tak hanya berhenti di teori, buku ini dibuat untukmuCocok dibaca, dipraktikkan, dan dimiliki, bukan hanya oleh tenaga kesehatan, tapi pada siapa pun yang peduli pada Kegawatdaruratan Dermatologi.
Buku ini tersedia untuk umum dan dapat dibeli langsung melalui Perpustakaan RSUDZA (@perpustakaanrsudza)
Penulis: Alif_RC
Editor: Ns. Eka Tlaga