RSUDZA Perkuat Transformasi Layanan melalui Pembelajaran Sistem Pembiayaan Kesehatan Malaysia

Di tengah tuntutan reformasi layanan kesehatan yang semakin kompleks, RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh terus memperkuat kapasitas institusinya dengan membuka ruang pembelajaran global. Melalui Sharing Session Asuransi Kesehatan Rumah Sakit bertema “Malaysian Healthcare and Financing System: Lesson Learned From Neighbours”, RSUDZA menegaskan komitmennya dalam memperdalam strategi pembiayaan kesehatan berkelanjutan demi peningkatan mutu layanan bagi masyarakat Aceh.
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Multazam 2 RSUDZA, Rabu (30/4/2026), menghadirkan pakar kesehatan masyarakat dari Universiti Kebangsaan Malaysia, Prof. Dr. Azimatun Noor Bt Aizuddin, sebagai narasumber utama. Forum ini menjadi wadah strategis bagi manajemen rumah sakit, akademisi, pemerintah daerah, dan tenaga kesehatan untuk membedah praktik pembiayaan kesehatan Malaysia yang dinilai lebih progresif di kawasan ASEAN.
Wakil Direktur Pengembangan SDM RSUDZA, dr. Arifatul Khorida, M. P. H., FISQua, menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar pertukaran pengetahuan, melainkan bagian dari langkah institusional RSUDZA dalam memperkuat reformasi pelayanan.
“Pembelajaran dari sistem kesehatan negara tetangga menjadi bagian penting dalam memperluas perspektif kami untuk menghadirkan layanan yang lebih efektif, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Dalam paparannya, Prof. Azimatun menjelaskan bahwa keberhasilan Malaysia membangun sistem kesehatan yang relatif unggul didukung oleh pembiayaan pemerintah yang lebih kuat, distribusi tenaga kesehatan yang lebih merata, serta pemanfaatan teknologi digital dalam efisiensi layanan. Malaysia juga tercatat memiliki pengeluaran kesehatan per kapita dan harapan hidup masyarakat yang lebih tinggi dibanding Indonesia.
“Penguatan sistem kesehatan tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran, tetapi juga pada tata kelola pembiayaan, kolaborasi sektor publik-swasta, dan kemampuan beradaptasi terhadap kebutuhan masyarakat,” jelas Prof. Azimatun.
Diskusi ini menjadi semakin relevan mengingat Indonesia, termasuk Aceh, masih menghadapi sejumlah tantangan seperti keterbatasan pembiayaan, ketimpangan tenaga medis, serta peningkatan kebutuhan layanan kesehatan. Berbagai isu strategis turut mengemuka, mulai dari dinamika Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), pengembangan layanan kesehatan eksekutif, hingga tantangan pelayanan di unit gawat darurat.
Sebagai rumah sakit rujukan utama di Aceh, RSUDZA memandang kegiatan ini sebagai investasi strategis dalam memperkuat kapasitas kelembagaan dan memperkaya kebijakan layanan berbasis pembelajaran internasional. Pendekatan ini sejalan dengan upaya RSUDZA untuk terus bertransformasi menjadi institusi kesehatan modern yang adaptif terhadap perubahan sistem kesehatan global.
Melalui kolaborasi akademik internasional seperti ini, RSUDZA tidak hanya memperluas wawasan manajerial dan kebijakan, tetapi juga mempertegas posisinya sebagai institusi pelayanan kesehatan yang progresif, inovatif, dan berkomitmen pada peningkatan kualitas layanan publik.
Langkah ini menjadi bukti bahwa transformasi layanan kesehatan tidak dapat berjalan sendiri, melainkan membutuhkan keterbukaan terhadap praktik terbaik global demi mewujudkan pelayanan yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Penulis: Jamilah Puteh
Editor : Rikanurrizki