Peringatan Hari Thalassemia Sedunia 2026 "Hidden No More, Finding the Undiagnosed, Supporting The Unseen

Banda Aceh, 20 Mei 2026 – Setiap tahun pada bulan Mei, dunia memperingati hari Talasemia. hari ini Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh turut serta dan sukses melakukan kegiatan Peringatan Hari Talasemia Sedunia Tahun 2026 yang berlangsung di Ruang Multazam 3 lantai 4 Gedung Onkologi RSUDZA pada Rabu 20 Mei 2026.
Talasemia merupakan salah satu kelainan darah genetik (turunan dari orang tua) yang paling umum dan sering dijumpai di banyak fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk RSDUZA. Kelainan ini bukanlah sekadar istilah, melainkan sebuah realitas genetik yang menjadi mimpi buruk jutaan orang di dunia. Dibalik angka statistik, terdapat banyak individu yang mengandalkan tranfusi darah untuk bertahan hidup setiap harinya.
Mengusung tema “Hidden No More, Finding the Undiagnosed, Supporting The Unseen” (Tidak lagi Tersembunyi, Menemukan yang Belum Terdiagnosis, Mendukung yang Tak Terlihat). Berfokus pada tantangan besar yang sering membuat talasemia menjadi salah satu penyakit yang terlupakan. Pada tahun ini menjadi pengingat untuk menyoroti pentingnya deteksi dini, mendukung para penyintas, dan menghapus stigma sosial.
Kegiatan ini merupakan inisiatif Yayasan Darah Untuk Aceh yang didukung oleh POPTI dan Quamed. Acara dibuka oleh Direktur RSUDZA yang diwakili oleh Wakil Direktur Pengembangan SDM RSUDZA, dr. Arifatul Khorida, MPH, FISQua.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan dari berbagai instansi, di antaranya BKKBN Aceh, Dinas Kesehatan Aceh, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, IDI Wilayah Aceh, IDAI Wilayah Aceh, IBI Wilayah Aceh, PMI Kota Banda Aceh, Aceh Peduli ASI, Prodia, serta dr. Aslinar.
Dalam sambutannya, dr. Arifatul Khorida menyampaikan bahwa peringatan Hari Talasemia Sedunia bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum untuk menghadirkan perhatian bagi mereka yang selama ini tidak terlihat perjuangannya.
“Hari ini adalah tentang menemukan mereka yang belum terdiagnosis dan mendukung keluarga-keluarga yang diam-diam berjuang setiap hari. Masih banyak anak, remaja, bahkan orang dewasa yang hidup dengan thalasemia namun belum terdeteksi sejak dini. Tema tahun ini mengingatkan kita bahwa perjuangan melawan thalasemia tidak boleh menyisakan siapa pun dalam kesunyian dan ketidakpedulian,” ujarnya.
Kepala BKKBN Aceh juga menekankan pentingnya pemeriksaan darah sebelum menikah sebagai langkah pencegahan talasemia. Ia turut memberikan motivasi melalui kisah seorang penyintas thalasemia yang berhasil menjadi ASN meskipun telah menjalani terapi dan transfusi rutin sejak usia 7 tahun hingga kini berusia 27 tahun. Penyintas tersebut juga berhasil menulis sebuah buku sebagai bentuk semangat dan inspirasi bagi sesama pejuang talasemia.
“Kita menyaksikan bagaimana anak-anak dan saudara-saudara kita yang hidup dengan talasemia menjalani perjuangan panjang: transfusi darah rutin, pengobatan berkelanjutan, serta tantangan fisik dan emosional yang tidak ringan. Namun di balik semua itu, kita juga melihat kekuatan luar biasa, senyum yang tetap tumbuh, semangat yang tetap menyala, dan harapan yang terus dijaga,” ungkapnya.
Ketua Yayasan Darah Untuk Aceh, Nurjannah Husien, turut menyampaikan pesan penting bagi para penyintas thalassemia. “Bagi penyintas talasemia, ada tiga hal yang wajib diingat, yaitu hafal nama, tanggal lahir, dan golongan darah,” ujarnya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi sosialisasi dan edukasi yang menghadirkan beberapa narasumber, di antaranya:
* dr. Eka Destianti, Sp.A, KHOM dengan materi Kepatuhan Transfusi dan Minum Obat;
* dr. Riswan, Sp.PD, KHOM dengan materi Talasemia pada Dewasa;
* Dossi Elfian yang membawakan materi tentang parenting;
* Serta sesi diskusi dan tanya jawab edukasi talasemia oleh PKRS RSUDZA.
Dalam kegiatan tersebut juga disampaikan bahwa perjuangan melawan talasemia bukan hanya tanggung jawab rumah sakit atau tenaga kesehatan, melainkan gerakan kemanusiaan bersama. Setiap tetes darah yang didonorkan merupakan harapan hidup bagi para pejuang thalassemia, sementara setiap dukungan yang diberikan menjadi kekuatan bagi keluarga yang terus berjuang tanpa lelah.
Selain itu, masyarakat juga diajak untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya skrining dan deteksi dini talasemia. Semakin cepat penyakit ini dikenali, semakin besar peluang pasien memperoleh penanganan yang tepat dan kualitas hidup yang lebih baik.
Penghargaan dan apresiasi turut disampaikan kepada Yayasan Darah Untuk Aceh atas dedikasi dan kontribusinya dalam mendukung ketersediaan darah bagi masyarakat Aceh, khususnya pasien talasemia.
Ucapan terima kasih juga diberikan kepada POPTI yang selama ini menjadi rumah harapan, ruang penguatan, dan sumber semangat bagi para orang tua serta anak-anak pejuang talasemia. Kehadiran POPTI dinilai membuktikan bahwa dukungan emosional dan solidaritas sosial memiliki peran besar dalam menjaga kualitas hidup pasien.
“14 Tahun Menjaga Harapan, Menguatkan Kehidupan” menjadi bukti bahwa kolaborasi, kepedulian, dan kemanusiaan mampu menghadirkan perubahan nyata.
Kegiatan ditutup dengan acara hiburan dan games bagi penyintas talasemia anak serta makan siang bersama.
Talasemia akan terus menjadi cerita dalam garis hidup seseorang. Teruslah melangkah dan berjuang. Melawan talasemia tidak bisa dilakukan sendirian. Bukan hanya tranfusi darah yang dibutuhkan, akan tetapi tranfusi semangat dan kepedulian dari kita semua dapat menjadi harapan baru.
Ke depan, diharapkan semakin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya donor darah, skrining talasemia, edukasi kesehatan reproduksi, serta dukungan terhadap layanan kesehatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Penulis : Jamilaputeh
Editor : E_Yusuf