RSUDZA Perkuat Kompetensi Tenaga Kesehatan dalam Pengendalian Tembakau

Admin 2026-06-06 16:00:00

Banda Aceh – Di tengah meningkatnya tantangan penggunaan produk tembakau dan nikotin yang semakin beragam, peran tenaga kesehatan tidak lagi terbatas pada pengobatan penyakit, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan dan perubahan perilaku masyarakat. Menjawab tantangan tersebut, RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) menggelar _In House Training_ dalam rangka memperingati *Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS)* 2026 sebagai langkah strategis memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dalam pengendalian konsumsi tembakau.

Mengusung tema global dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), _"Unmasking the Appeal – Countering Nicotine and Tobacco Addiction"_ *(Mengungkap Daya Tarik: Melawan Kecanduan Nikotin dan Tembakau),* kegiatan yang berlangsung di Ruang Multazam 2 RSUDZA, ini menjadi wadah pembelajaran bagi tenaga kesehatan untuk memahami dinamika terbaru terkait ketergantungan nikotin serta strategi intervensi berhenti merokok yang efektif.

Kegiatan dibuka oleh Direktur RSUDZA yang diwakili Wakil Direktur Pengembangan SDM, dr. Arifatul Khorida, MPH, FISQua, dan diikuti oleh 30 tenaga kesehatan dari berbagai unit kerja di lingkungan RSUDZA. Hadir pula narasumber dari Kelompok Staf Medis (KSM) Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi serta jajaran pimpinan dan manajemen rumah sakit.

Dalam sambutannya, dr. Arifatul menegaskan bahwa Hari Tanpa Tembakau Sedunia bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum penting untuk memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar saat ini.

"Tema yang diusung WHO tahun ini mengajak kita untuk lebih kritis melihat berbagai strategi pemasaran yang dirancang untuk meningkatkan daya tarik produk tembakau dan nikotin, terutama di kalangan generasi muda. Di balik kemasan yang menarik dan inovasi produk yang tampak modern, terdapat ancaman nyata berupa kecanduan nikotin yang berdampak luas terhadap kesehatan individu maupun masyarakat," ujar dr. Arifatul.

Sebagai rumah sakit rujukan tertinggi di Aceh, RSUDZA menyaksikan secara langsung dampak konsumsi tembakau melalui tingginya kasus penyakit tidak menular yang berkaitan erat dengan kebiasaan merokok, seperti penyakit jantung, stroke, kanker, hingga penyakit paru kronik. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi kesehatan pasien, tetapi juga berdampak terhadap kualitas hidup keluarga serta meningkatkan beban sosial dan ekonomi masyarakat.

Data global menunjukkan bahwa konsumsi tembakau masih menjadi salah satu penyebab utama kematian yang dapat dicegah. Di sisi lain, munculnya berbagai produk nikotin baru dengan strategi pemasaran yang menyasar kelompok usia muda semakin memperkuat urgensi peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi dan pendampingan berhenti merokok.

Menurut dr. Arifatul, tenaga kesehatan memiliki posisi strategis sebagai sumber informasi terpercaya sekaligus teladan dalam membangun budaya hidup sehat.

"Setiap hari kita berinteraksi dengan pasien yang mungkin sedang mempertimbangkan untuk berhenti merokok, tetapi belum menemukan cara yang tepat. Mereka membutuhkan informasi yang benar, motivasi yang kuat, serta pendampingan yang berkelanjutan. Karena itu, kemampuan melakukan intervensi berhenti merokok menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki tenaga kesehatan," sebutnya.

Melalui pelatihan ini, peserta memperoleh pembaruan pengetahuan mengenai tata laksana ketergantungan nikotin, teknik konseling berhenti merokok, hingga pendekatan komunikasi efektif yang dapat diterapkan dalam praktik pelayanan sehari-hari. Diskusi interaktif dan simulasi kasus juga menjadi sarana untuk memperkuat kemampuan peserta dalam menghadapi berbagai situasi nyata di lapangan.

Salah satu pembelajaran penting yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah bahwa keberhasilan pelayanan kesehatan tidak hanya diukur dari kemampuan mengobati penyakit, tetapi juga dari efektivitas upaya pencegahan yang dilakukan sejak dini.

"Rumah sakit yang hebat bukan hanya tempat menyembuhkan penyakit, tetapi juga tempat membangun budaya hidup sehat. Dan budaya itu selalu dimulai dari keteladanan para tenaga kesehatannya," ungkap dr. Arifatul.

Sebagai bagian dari penguatan kompetensi praktis, peserta juga mengikuti simulasi penggunaan _CO Analyzer_ untuk mengukur kadar karbon monoksida dalam tubuh, serta melakukan pembahasan kasus secara berkelompok guna mengasah kemampuan identifikasi dan intervensi terhadap pasien dengan ketergantungan nikotin.

Penyelenggaraan pelatihan ini mencerminkan komitmen RSUDZA dalam mengintegrasikan aspek promotif dan preventif ke dalam layanan kesehatan yang komprehensif. Lebih dari sekadar memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, kegiatan ini menjadi investasi jangka panjang dalam membangun sumber daya manusia kesehatan yang adaptif, edukatif, dan berorientasi pada keselamatan masyarakat.

Mendukung upaya tersebut, RSUDZA terus memperkuat perannya tidak hanya sebagai pusat layanan rujukan, tetapi juga sebagai institusi pendidikan dan pembelajaran yang aktif mendorong transformasi kesehatan di Aceh. Melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan penguatan budaya hidup sehat, RSUDZA berharap dapat berkontribusi dalam menekan beban penyakit akibat konsumsi tembakau serta mewujudkan masyarakat Aceh yang lebih sehat, produktif, dan berkualitas.

*Penulis: Jamilahputeh*

*Editor: Rikanurrizki*