Saat Cinta Menjadi Harapan: Seorang Istri Donorkan Ginjal untuk Suami di RSUDZA

Admin 2026-08-03 13:00:00

Banda Aceh, 3 Agustus 2026 – Tidak semua ungkapan kasih sayang diucapkan dengan kata-kata. Bagi seorang istri asal Aceh, cinta diwujudkan melalui sebuah keputusan besar: mendonorkan satu ginjalnya untuk sang suami yang telah lama berjuang melawan gagal ginjal kronis. Di ruang operasi RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA), pengorbanan itu menjadi awal harapan baru, bukan hanya bagi keluarganya, tetapi juga bagi perkembangan layanan transplantasi ginjal di Aceh.

Pada Senin (3/8), Tim Transplantasi Ginjal RSUDZA berhasil melaksanakan transplantasi ginjal ketujuh, sebuah capaian penting yang menjadi tonggak dalam upaya mewujudkan kemandirian layanan transplantasi ginjal di Aceh, sehingga masyarakat tidak lagi harus menempuh perjalanan ke luar daerah untuk memperoleh layanan serupa.

Keberhasilan ini melanjutkan capaian transplantasi ginjal keenam yang sukses dilaksanakan pada Desember 2025. Hingga saat ini, pengembangan layanan masih berada dalam tahap pendampingan oleh Tim Transplantasi Ginjal RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, sebagai bagian dari proses transfer pengetahuan dan penguatan kapasitas menuju pelayanan transplantasi ginjal yang mandiri di RSUDZA.

Di balik keberhasilan tindakan medis tersebut, tersimpan proses panjang yang penuh perjuangan.  Sepasang suami istri itu menjalani berbagai tahapan skrining, pemeriksaan imunologi, evaluasi medis, hingga persiapan menyeluruh untuk memastikan transplantasi dapat dilakukan dengan aman.

Tindakan transplantasi dilakukan oleh Tim Transplantasi Ginjal RSUDZA yang dipimpin oleh dr. Abdullah, Sp.PD, K-GH, FINASIM, selaku Ketua Tim Transplantasi Ginjal RSUDZA, dengan pendampingan langsung dari tim ahli RSCM Jakarta. Operasi berlangsung selama sekitar delapan jam dan berjalan lancar berkat kolaborasi 26 unit pelayanan dan 4 bagian penunjang lainnya di lingkungan RSUDZA, mulai dari nefrologi, urologi, anestesi, bedah, keperawatan, laboratorium, radiologi, farmasi, hingga tim perawatan intensif. Sinergi multidisiplin tersebut menjadi kunci keberhasilan setiap tahapan transplantasi, mulai dari proses evaluasi praoperasi, tindakan pembedahan, hingga pemantauan pascaoperasi.

Usai operasi, baik donor maupun resipien berada dalam kondisi stabil dan masih menjalani perawatan intensif untuk proses pemulihan. Fungsi ginjal hasil transplantasi mulai bekerja dengan baik, menjadi indikator awal keberhasilan tindakan yang dilakukan oleh tim medis.

Direktur RSUD dr. Zainoel Abidin, Dr. Muhazar Harun, SKM., M.Kes, menyampaikan bahwa keberhasilan ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar pencapaian medis.

"Alhamdulillah, transplantasi ginjal ketujuh di RSUDZA berjalan dengan lancar. Ini merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi luar biasa dari seluruh tim multidisiplin serta pendampingan yang diberikan oleh Tim Transplantasi Ginjal RSCM. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam keberhasilan ini."

Menurutnya, kondisi donor maupun penerima transplantasi saat ini stabil dan terus dipantau secara intensif oleh tim medis.

"Fungsi ginjal pasien mulai bekerja dengan baik, sementara donor juga berada dalam kondisi stabil. Keduanya masih menjalani pemantauan intensif agar proses pemulihan berlangsung optimal. Keberhasilan ini juga menjadi harapan baru bagi masyarakat Aceh karena layanan transplantasi ginjal kini semakin berkembang di daerah sendiri."

Sementara itu, Ketua Tim Transplantasi Ginjal RSUDZA, dr. Abdullah, Sp.PD, K-GH, FINASIM, menjelaskan bahwa keberhasilan operasi tidak terlepas dari proses persiapan yang panjang serta kerja sama erat lintas profesi.

"Persiapan transplantasi tidak dilakukan dalam waktu singkat. Selama hampir satu tahun kami melakukan skrining, evaluasi donor dan resipien, serta memastikan seluruh persyaratan medis terpenuhi. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa tim transplantasi RSUDZA semakin siap dan terus berkembang dalam memberikan layanan sesuai standar nasional."

Transplantasi ginjal merupakan terapi terbaik bagi pasien dengan gagal ginjal stadium akhir karena mampu meningkatkan kualitas hidup serta harapan hidup dibandingkan terapi dialisis jangka panjang. Namun, layanan ini membutuhkan kesiapan sumber daya manusia, fasilitas, dan tata kelola yang kompleks sehingga hanya dapat diselenggarakan oleh rumah sakit dengan kompetensi dan standar pelayanan yang tinggi.

Di balik kecanggihan teknologi, keahlian dokter, dan kolaborasi puluhan tenaga kesehatan, kisah transplantasi ginjal ketujuh ini mengingatkan bahwa layanan kesehatan selalu berawal dari nilai-nilai kemanusiaan. Ketika cinta seorang istri bertemu dengan dedikasi  pelayanan di RSUDZA, harapan pun menemukan jalannya.

Keberhasilan transplantasi ginjal ketujuh ini menjadi simbol semakin kuatnya kapasitas RSUDZA dalam menghadirkan layanan transplantasi yang aman, berkualitas, dan berstandar nasional. Melalui penguatan kompetensi sumber daya manusia, kolaborasi berkelanjutan dengan RSCM, serta komitmen mewujudkan kemandirian layanan transplantasi ginjal di Aceh, RSUDZA optimistis masyarakat Aceh dapat memperoleh pelayanan terbaik tanpa harus meninggalkan daerahnya.

Penulis: AlifRC
Editor: Rikanurrizki