RSUDZA - USK perkuat Pendidikan Dokter Spesialis. Patient Safety Jadi Prioritas

Banda Aceh 28 September 2026 - Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) kembali menerima peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), Subspesialis, dan Fellowship angkatan II tahun 2026 Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK). Kegiatan berlangsung pada Jumat 25 September 2026 di Ruang Multazam 2 RSUDZA, dihadiri oleh Direktur RSUDZA, jajaran direksi, Dekan Fakultas Kedokteran USK, Kabid diklat, Ketua Komkordik, para Kordinator Program studi, dan seluruh peserta didik yang akan menjalani program pendidikan di RSUDZA.
Kegiatan dibuka oleh Direktur RSUDZA Dr. Muhazar Harun, SKM, M.Kes. Dalam sambutannya, Dr. Muhazar menyampaikan bahwa peserta didik tidak hanya dituntut menguasai ilmu dan keterampilan klinis, akan tetapi juga harus memiliki etika, kemampuan komunikasi yang baik, empati, serta bertanggung jawab secara profesional dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
"Sejak hari pertama berada di RSUDZA, peserta didik adalah bagian dari sistem pelayanan rumah sakit. Setiap keputusan, komunikasi, pencatatan, dan tindakan dapat memengaruhi mutu pelayanan serta keselamatan pasien,” tegasnya.
Sebanyak 123 peserta akan mengikuti orientasi, sebagai tahap awal memasuki dunia pendidikan klinis di RSUDZA. Hal ini penting dilakukan untuk memastikan keselamatan pasien (Patient safety) dan menyelaraskan kompetensi medis dengan sistem operasional RSUDZA.
Melalui orientasi ini peserta didik akan dibekali dengan poin-poin penting seperti Sasaran Keselamatan Pasien (SKP), kepatuhan terhadap Standar Opersional Prosedur (SOP) yang berlaku, adaptasi alur pelayanan dan sistem informasi rumah sakit, pembekalan etika, aspek hukum, dan gerakan anti perundungan, serta pelatihan protokol wajib RSUDZA seperti Pencegahan Pengendalian Infeksi (PPI) dan Kesehatan Keselamatan Kerja (K3).
RSUDZA akan memastikan bahwa peserta didik tidak hanya unggul secara keilmuan akademis saja, akan tetapi mampi memberikan pelayanan yang aman, rensponsif, dan sesuai dengan budaya kerja RSUDZA. Program pendidikan ini bukan hanya ajang belajar, dan RSUDZA bukan sekadar tempat uji coba, ini merupakan tempat pelayanan yang aktif menyelamatkan nyawa manusia.
Sebagai rumah sakit rujukan sekaligus rumah sakit pendidikan utama di Aceh, RSUDZA menjadi tempat dimana nantinya peserta didik akan menangani berbagai kasus kompleks dengan latar belakang pasien yang beragam. Karena itu, keselamatan pasien harus menjadi prioritas dalam setiap proses pendidikan dan pelayanan.
Direktur meminta kepada peserta diidk untuk bekerja sesuai dengan kompetensi dan kewenangan klinik serta mengikuti jenjang supervisi. Peserta didik diminta untuk tidak ragu berkonsultasi ketika menghadapi kondisi di luar kemampuannya.
"Meminta bantuan bukan tanda kelemahan, tetapi bentuk profesionalisme dan tangung jawab kepada pasien" ujarnya.
Para supervisor, Ketua KSM, konsultan, dan tenaga pendidik klinis diminta memberikan bimbingan secara konsisten, adil, dan manusiawi. Sementara peserta didik diingatkan agar tidak sekadar mengejar jumlah kasus atau pemenuhan logbook.
Di RSUDZA, peserta didik akan dituntut untuk tidak hanya mengasah kemampuan medis, diharapkan peserta didik pun mampu meraih kematangan kamampuan kritis lainnya seperti komunikasi kritis, manajemen stres dan regulasi emosi, jejaring profesional, meningkatkan kerja sama antar dokter dan tenaga kesehatan lain.
Melalui program pendidikan ini, menjadi harapan besar bagi RSUDZA
dan USK untuk melahirkan dokter spesialis yang berkualitas, berkompeten,
tangguh, dan mampu bersaing ditingkat global. RSUDZA bersama Fakultas
Kedokteran USK berkomitmen untuk terus memperkuat integrasi dalam bidang
pendidikan, pelayanan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Program
ini akan menghasilkan dokter spesialis dan subspesialis yang kompeten,
berintegritas, dan mampu memberikan pelayanan berkualitas lebih dari yang diharapkan.
Penulis : Ns. Evi